Loyalitas dan Perlawanan
Sebuah Antitesis yang Komplementer

Dalam pola pikir yang timbul dari akal sehat, loyalitas pada kebenaran bermakna, salah satunya, melakukan perlawanan pada setiap ketidakadilan. Ia tidak sekalipun menafsirkan diri sebagai bentuk penghambaan pada setiap perkataan yang tidak memiliki dasar argumentasi, lalu dengan mengikutinya dianggap sebagai prestasi. Loyalitas bermakna lebih dari itu. Idealnya, loyalitas adalah tentang pengabdian kepada entitas obyek yang mendeklarasikan diri untuk tidak lagi mendefinisikan diri sebagai subyek. Loyalitas yang dilakukan dengan cara sembarangan akan membawa subyek pada fanatisme buta yang pada akhirnya menutupi dirinya dari kebenaran yang sesungguhnya.
Demi terbentuknya chain of commando, sebuah organisasi seringkali menitikberatkan loyalitas bawahan (termasuk di antaranya middle level dan first-line manager serta karyawan) kepada atasan dalam hubungan kerja secara hierarkis. Kepatuhan bawahan akan menghadirkan garis vertikal yang lebih jelas, memungkinkan adanya decision tracking — — secara internal dan memastikan konsistensi arah kebijakan organisasi — — secara eksternal. Gagasan pada tataran kepemimpinan strategis akan selalu dapat dituangkan dalam aksi-aksi teknis pada tingkat bawahan. Hal ini akan membawa ketercapaian target secara terpusat berdasarkan poin-poin gagasan pada entitas pengambil keputusan.
Lantas, bagaimana jika keputusan yang diambil tidak sejalan dengan misi organisasi?
Kuatnya rantai komando yang terbentuk pada akhirnya menutupi kesempatan adanya check and balance pada kebijakan, memungkinkan organisasi dapat mengambil arah yang menyimpang dari tujuan awalnya. Organisasi berfungsi layaknya individu yang terdiri dari berbagai sistem, sebagai contoh sistem saraf pada manusia. Luka akan membawa pesan stimulasi pada reseptor untuk ditransmisikan melalui saraf perifer ke spinal dan selanjutnya ditranslasikan menjadi rasa sakit di korteks somatosensorik. Bagaimana jika sistem saraf dimatikan? Tentu, manusia tidak ada menyadari bahwa ia sedang mengalami luka, dan jika ia biarkan begitu saja bisa memicu terjadinya infeksi. Organisasi pun sama, bagaimana jika perlawanan dikecualikan dari terminologi komplementer loyalitas?
Pelarangan terhadap perlawanan berarti pembungkaman pada setiap kesempatan organisasi untuk membenahi diri. Dengan memegang prinsip ini, organisasi berjalan layaknya motor yang dicopot spion kanan dan kirinya. Tentu, ia bisa dengan cepatnya berjalan ke depan, tapi bagaimana ia tahu sekiranya ada kendaraan yang menyalip dari sisi kanan/kiri-nya dan bagaimana ia yakin bisa mengikuti rute yang telah ia tetapkan tanpa adanya collision?
Oleh karenanya, berhentilah menutup diri dengan mengatakan bahwa perlawanan adalah suatu bentuk pengkhianatan. Sejujurnya, perlawanan adalah sebuah antitesis yang komplementer dari loyalitas.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapat Anda!