Hanif Kridho·4 Juni 2026·3 menit baca

Bersuara tapi Tidak Tahu Dasar Ilmiahnya atau Diam dan Mendiskreditkan Pergerakan?

Sebuah Analogi Elemen Aksi Propaganda dalam Mekatronika Perangkat Pengeras Suara. Artikel ini tidak merujuk pada aktivitas politik pada suatu negara demokratis tertentu.

Bersuara tapi Tidak Tahu Dasar Ilmiahnya atau Diam dan Mendiskreditkan Pergerakan?

“Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu.” “Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, disana bersemayam kemerdekaan, apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan!" — Widji Thukul

Seringkali ketika dihadapkan dengan agenda aksi propaganda dalam bagian dari aktivitas mengemukakan pendapat, seseorang dihadapkan pada dilema “bersuara tapi tidak tahu dasar ilmiahnya” atau malah mengambil sikap untuk “diam dan mendiskreditkan pergerakan”. Kedua hal ini bagai jarak kedua penunjuk jam dan menit tatkala waktu menunjuk pukul 14.45, walau terkadang aksi yang diambilnya menunjuk pada detik angka 11. Orang yang mengambil peran sebagai “amplifier” cenderung dianggap sebagai “tukang kompor” ataupun “buzzer” (buzzer di sini tidak terbatas pada artian penyuara politik, artikel ini tidak secara khusus merujuk pada kegiatan politik pemerintahan). Sebaliknya, orang yang diam cenderung dianggap sebagai “diskreditor” pergerakan yang secara tidak langsung menggembosi upaya kolektif dalam mengeskalasi isu.

Dalam mekatronika perangkat pengeras suara, suara bermula dari sumber yang membunyikan gelombang suara untuk kemudian ditangkap oleh mikrofon. Proses transmisi suara dihantarkan melalui kabel mikrofon dalam bentuk gelombang listrik analog ke dalam amplifier untuk diperbesar volumenya hingga menjadi hasil keluaran suara pada speaker (pengeras suara) yang lebih keras. Suara yang tadinya bervolume kecil pada akhirnya menjadi jauh lebih keras dan memicu perhatian pada orang-orang yang tercakup dalam jangkauan pengeras suara. Semakin keras, semakin banyak orang yang terpicu perhatiannya, semakin banyak pula orang yang mencari tahu lebih banyak perihal sumber suara. Sementara itu, orang yang bersuara lirih akan cenderung terkalahkan gelombang suara keluaran dari pengeras suara dan pada akhirnya terpinggirkan, bahkan bisa jadi hanya akan dianggap sebagai noise.

Konsep mekatronika ini memiliki pola yang sama apabila dianalogikan dalam teori Spiral of Silence oleh Elisabeth Noelle — Neumann pada 1974. Teori ini menyatakan bahwa orang akan cenderung semakin diam apabila merasa opininya dianggap sebagai opini unpopular, sedangkan opini populer akan semakin berkembang karena lebih banyak orang yang berani menyuarakan. Aktivitas amplifying dalam upaya eskalasi isu propaganda ini akan menciptakan persepsi bahwa suatu narasi dianggap sebagai opini mayoritas, yang pada akhirnya akan dimaklumi sebagai “suara rakyat” dalam konteks “mengendarai populisme”.

Entitas yang memilih untuk diam, cenderung menarik orang lain untuk berpikir bahwa narasi yang disuarakan tetap menjadi unpopular opinion, alih-alih tereskalasi menjadi suara mayoritas. Pada akhirnya, kondisi ini juga akan menarik “sumber suara” untuk berpikir bahwa narasinya adalah unpopular opinion di mata publik.

Keengganan banyak entitas untuk menyuarakan suatu narasi dapat berujung pada melemahnya keluaran dari usaha aksi propaganda. Kebenaran yang disuarakan akan tertutupi oleh kekhilafan yang populer, walaupun juga berpotensi sebaliknya, kekhilafan yang disuarakan akan menutupi kebenaran yang unpopular. Diam bisa jadi membahayakan jika dilakukan pada situasi dengan karakteristik viral-based policy making.

Dari konsep analogi ini, mulai terlihat peran orang yang tidak tahu dasar ilmiah dari suatu narasi dalam suatu aksi propaganda untuk mengeskalasi isu tertentu. Tak lain, peran dari “amplifier” adalah untuk memperbesar narasi yang disampaikan dari sumber narasi, ya, walaupun amplifier tidak begitu tahu apa yang disuarakan.

Seperti dalam analogi mekatronika perangkat pengeras suara, apakah rasa ingin tahu seseorang akan membuatnya menghampiri amplifier dan menyalahkan kepadanya atas suara-suara yang dianggap tidak berdasar? Tidak, seharusnya mereka tahu siapa yang hendak dipertanyakannya.

Tentang bersuara tapi tidak tahu dasar ilmiahnya, atau diam dan mendiskreditkan pergerakan…

Semua berperan sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya.

Sekarang, ambil peranmu, di jalan yang menurutmu mengarah pada kebenaran!


Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapat Anda!